SUKABUMISATU.com – Kabar simpang siur mengenai penyebab kematian NS (12), remaja asal Kecamatan Jampangkulon yang viral diduga menjadi korban kekerasan, mulai menemui titik terang dari sisi medis. Pihak RSUD Jampangkulon akhirnya buka suara mengenai kondisi dramatis korban sebelum mengembuskan napas terakhir.
Dokter Spesialis Anak RSUD Jampangkulon, dr. Sulaiman Arigayota, mengungkapkan bahwa saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), kondisi NS sudah sangat memprihatinkan. Fokus utama tim medis saat itu bukan pada luka-luka di permukaan kulit, melainkan pada gangguan pernapasan berat yang mengancam nyawa.
Fokus pada Kegagalan Napas
“Begitu pasien datang, dari proses triase langsung terlihat masalah utamanya adalah pernapasan. Napasnya cepat dan tidak efektif (tidak adekuat). Fokus kami adalah menyelamatkan fungsi vital,” ujar dr. Sulaiman kepada awak media, Minggu malam (22/02/2026).
Kondisi paru-paru NS dinilai tidak mampu lagi menopang kebutuhan oksigen tubuh secara mandiri. Hal inilah yang memaksa tim medis segera melarikan korban ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk dipasangi alat bantu napas dan diberikan obat-obatan emergensi.
Rincian Luka: Dari Lebam Hingga Melepuh
Meski fokus pada penyelamatan nyawa, tim medis tidak menampik adanya temuan luka di sekujur tubuh remaja malang tersebut. Berdasarkan pemeriksaan fisik, ditemukan luka di wajah, leher, badan, hingga kaki dengan kondisi yang beragam:
Luka Melepuh: Terdapat sekitar 4 titik luka yang menyerupai luka bakar atau paparan panas.
Luka Lebam: Ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak di beberapa bagian tubuh.
Luka Keropeng: 3 titik luka yang sudah mengering (krusta), termasuk di area hidung yang sempat viral disangka pendarahan aktif.
“Sebagian luka memang terlihat seperti bekas panas atau melepuh, namun secara medis kami belum bisa memastikan apakah itu akibat benda panas, benturan, atau proses penyakit tertentu. Itu perlu pendalaman lebih lanjut,” tambah dr. Sulaiman.
Enam Jam Perjuangan Medis
NS menjalani perawatan intensif selama total enam jam—empat jam di IGD dan dua jam di ICU. Namun, meski prosedur kegawatdaruratan telah dilakukan sesuai standar maksimal, kondisi klinis NS terus merosot hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kematian NS masih menjadi tanda tanya besar. Apakah kegagalan napas tersebut dipicu oleh trauma kekerasan, paparan suhu panas yang ekstrem, atau faktor penyakit lain?
“Semua itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan forensik lebih mendalam atau autopsi,” tegasnya menutup keterangan.
Analisis Redaksi SukabumiSatu:
Keterangan medis ini mempertegas bahwa kondisi NS saat dibawa ke rumah sakit sudah dalam fase kritis. Temuan luka melepuh dan lebam yang tersebar di banyak titik menjadi petunjuk krusial bagi kepolisian untuk mencocokkan pengakuan korban dalam video viral dengan fakta klinis di lapangan.
Reporter: Maulana Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra








