Indeks

Di Balik Tanah yang Retak di Cibadak: Menanti Tetesan Air dan Menjaga Bara Tak Menjadi Petaka

Camat Cibadak Sukabumi, Mulyadi.

SUKABUMISATU.com – Musim kemarau di pertengahan Juli 2026 ini datang tanpa mengetuk pintu, membawa serta kecemasan lama yang kembali berulang bagi warga Kabupaten Sukabumi. Di Kecamatan Cibadak, matahari yang terik tak sekadar menaikkan suhu udara, tetapi juga mulai mengeringkan sumur-sumur warga dan menyisakan tanah yang meranggas.

​Bagi warga Desa Sekarwangi, air kini bukan lagi sekadar komoditas yang mengalir gratis dari alam, melainkan barang berharga yang harus dinanti kedatangannya dari truk-truk tangki bantuan.

​Kondisi ini memicu respons cepat dari otoritas setempat. Pemerintah Kecamatan Cibadak bersama berbagai elemen kini tengah berkejaran dengan waktu untuk meminimalisasi dampak krisis hidrometeorologi ini agar tidak meluas menjadi penderitaan kemanusiaan yang lebih dalam.

Ketika Air Bersih Menjadi Barang Mewah

​Desa Sekarwangi menjadi titik paling rapuh di Kecamatan Cibadak saat ini. Dari sembilan desa dan satu kelurahan yang ada di bawah administrasi Cibadak, Sekarwangi menjadi wilayah yang paling pertama dan paling parah merasakan dampak kekeringan.

​Camat Cibadak, Mulyadi, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar manusia—yakni air bersih—menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

​”Untuk penanganan kekeringan di Desa Sekarwangi dan wilayah kelurahan, kami terus berkoordinasi dengan PDAM. Alhamdulillah bantuan air bersih sudah dikirim ke lokasi oleh BPBD, PDAM, serta para relawan,” ujar Mulyadi, Jumat (17/7/2026).

​Namun, Mulyadi sadar betul bahwa birokrasi tidak boleh kaku di tengah krisis. Untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat atau “kehausan” tanpa penanganan, pihak kecamatan membuka akses informasi seluas-luasnya. Warga diminta aktif melaporkan kondisi wilayah mereka agar distribusi logistik air bersih bisa langsung menyasar ke titik-titik paling kritis.

Jeruji Musim Kering: Mengantisipasi Bara dan Retakan Tanah

​Kekeringan hanyalah hulu dari rangkaian potensi bencana lainnya. Sukabumisatu.com mencatat, musim kemarau di kawasan padat penduduk sering kali memicu kelalaian manusia (human error) yang berujung fatal, salah satunya adalah kebakaran lahan dan permukiman sempat terjadi di Desa Pamuruyan beberapa hari lalu.

​Mulyadi mengingatkan, di tengah vegetasi yang mengering, satu letupan kecil dari pembakaran sampah atau ilalang yang ditinggalkan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi amukan api yang melahap ruang hidup warga.

​”Kalau membakar ilalang jangan sampai ditinggalkan. Begitu juga saat membakar sampah harus terus dipantau agar tidak memicu kebakaran yang lebih besar,” tegas Mulyadi mengingatkan warganya.

​Ironisnya, ancaman tidak berhenti saat kemarau usai. Alam menyimpan memorinya sendiri. Mulyadi menyoroti sebuah siklus bahaya yang laten: tanah longsor.

​Saat kemarau panjang, tanah di perbukitan Cibadak akan mengering dan memicu retakan-retakan dalam (soil cracking). Ketika musim hujan pertama tiba secara tiba-tiba, air akan masuk dan menjenuhkan retakan tersebut, mengubah tanah menjadi bubur yang siap longsor kapan saja.

​”Musim kemarau juga harus diantisipasi (efek jangka panjangnya). Ketika nanti hujan turun, retakan-retakan tanah bisa menyebabkan longsor. Masyarakat harus lebih waspada,” tambahnya.

Otot Kemanusiaan dan Ujian Kesadaran Lingkungan

​Menghadapi kemarau bukan sekadar urusan membagi-bagikan air bersih, melainkan juga menguji sejauh mana solidaritas sosial dan kesadaran lingkungan warga diuji. Di tengah krisis air, Mulyadi menyayangkan masih rendahnya kesadaran sebagian warga yang menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sampah akhir.

​Perilaku ini dinilai memperparah krisis. Ketika debit air sungai menyusut drastis, tumpukan sampah yang tertahan akan membusuk dan menjadi sarang penyakit, mengancam kesehatan warga yang sedang rentan akibat kekeringan.

​”Jangan sampai sampah menjadi sumber penyakit. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan harus terus ditingkatkan,” pungkah Mulyadi.

​Kemarau tahun 2026 ini pada akhirnya menjadi cermin bagi warga Cibadak. Bahwa ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya bertumpu pada kesiapan pemerintah dan bantuan tangki air BPBD, melainkan pada sedekat apa tetangga saling peduli, dan sekuat apa komunitas menjaga ruang hidup mereka agar tetap bersih dan aman dari intaian bencana.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Exit mobile version