SUKABUMISATU.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) biasanya diidentikkan dengan menghafal visi-misi sekolah, mencari tahu letak ruang guru, atau dalam sejarah kelam pendidikan kita: menjadi ajang perpeloncoan senior. Namun, bagi siswa baru di Kabupaten Sukabumi, orientasi sekolah kini bergeser menjadi urusan yang jauh lebih krusial, yakni menyangkut taruhan nyawa dan keselamatan.
Selasa, 14 Juli 2026, suasana di SMP Mardi Yuana Cibadak tampak berbeda. Sejak pukul 09.30 WIB, ratusan siswa baru tidak sekadar duduk mendengarkan ceramah akademik. Mereka diajak turun ke lapangan, belajar merunduk, berlindung di bawah meja, dan memetakan jalur evakuasi.
Dinas Pendidikan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi tengah mencoba mengintegrasikan sesuatu yang selama ini kerap luput dari kurikulum awal sekolah: mitigasi bencana.
Mengapa Harus Mitigasi Sejak Hari Pertama?
Langkah ini bukan tanpa alasan. Secara geografis, Kabupaten Sukabumi adalah daerah dengan tingkat kerentanan bencana yang sangat tinggi—jika tak mau disebut sebagai “supermarket bencana.”
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengungkap bahwa wilayahnya mengantongi potensi kerawanan yang masif.
“Hampir lebih dari 12 kategori bencana ada di Kabupaten Sukabumi. Kita punya program sekolah aman bencana juga. Jadi, materi mitigasi bencana itu harus terintegrasikan dalam orientasi,” kata Deden.
Sukabumisatu.com mencatat, topografi Sukabumi yang variatif—mulai dari pegunungan curam, perbukitan yang rawan pergeseran tanah, hingga garis pantai selatan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust—membuat risiko bencana menjadi menu sehari-hari. Oleh karena itu, Disdik menginstruksikan agar setiap sekolah memetakan materi mitigasi berdasarkan karakter geografis masing-masing.
Artinya, MPLS tidak diseragamkan secara rigid. Sekolah di kawasan pesisir wajib mengenalkan peta risiko tsunami, sementara sekolah di area perbukitan fokus pada ancaman tanah longsor.
“Minimal siswa-siswi sudah paham dan mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri,” tambah Deden.
Dari Teori Menuju Kolong Meja
Di SMP Mardi Yuana Cibadak, kesiapsiagaan itu diuji secara langsung. BPBD Kabupaten Sukabumi menerjunkan timnya untuk memberikan edukasi yang tidak sekadar berbasis teks di atas kertas, melainkan lewat pendekatan interaktif.
Staf anggota BPBD Kabupaten Sukabumi, Rusli Abdul Azis, bertindak sebagai pemateri pertama yang menguliti jenis-jenis bencana dan langkah preventif awal. Sementara itu, Moh Maulana Farhan dari bidang kedaruratan BPBD memimpin praktik simulasi langsung. Saat aba-aba gempa berbunyi, para siswa dilatih untuk tidak panik, melindungi kepala, dan mencari titik aman di lingkungan sekolah.
Target dari simulasi ini berjangka panjang. BPBD berharap para siswa baru ini tidak hanya menjadi penyintas yang tangguh saat bencana melanda sekolah, tetapi juga bertransformasi menjadi agent of change (agen perubahan) yang membawa informasi keselamatan ini pulang ke rumah dan menyebarkannya ke keluarga serta komunitas terdekat mereka.
Struktur Aman: Bebas Gempa, Bebas Perpeloncoan, Bebas Pungutan
Upaya membangun “Sekolah Aman Bencana” ini berjalan linear dengan komitmen pembenahan iklim pendidikan di Sukabumi. Deden Sumpena menegaskan bahwa aspek keselamatan siswa tidak hanya diuji dari ketangguhan gedung sekolah menahan gempa, tetapi juga dari kenyamanan psikologis dan finansial.
Merujuk pada Permendikbud, Disdik Sukabumi menggarisbawahi dua aturan tegas:
Nol Perpeloncoan: Tradisi kekerasan fisik maupun mental berkedok ospek resmi dilarang. Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman sejak hari pertama siswa melangkah masuk.
Nol Pungutan di Sekolah Negeri: Penerimaan siswa baru tidak boleh menjadi beban finansial baru bagi orang tua. Segala bentuk iuran atau pungutan liar di sekolah negeri dinyatakan ilegal dan harus gratis.
Integrasi antara ketangguhan mitigasi fisik dan penegakan regulasi non-akademik ini menunjukkan satu arah baru: sekolah tidak boleh lagi menjadi tempat yang mengerikan bagi anak-anak—baik karena ancaman alam yang mengintai di luar, maupun karena sistem yang korup dan abusif di dalam.
Tantangan berikutnya kini berada di pundak sekolah-sekolah di Sukabumi: memastikan simulasi satu hari di masa MPLS ini tidak menguap begitu saja menjadi formalitas tahunan, melainkan menjelma jadi budaya selamat yang konsisten sepanjang tahun ajaran.
Reporter: Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra
