Indeks

Atasi Ribuan Rutilahu, Camat Cibadak Masifkan Program ‘Lelang Kebaikan’ Lewat KOPI MASAL

Gerakan Kolaborasi bertajuk KOPI MASAL (Kolaborasi Peduli Masalah Sosial), pembangunan rumah ke-20 kini resmi dimulai di Kampung Situ Saeur RT 01/11, Kelurahan Cibadak, Jumat (01/05/2026).

SUKABUMISATU.COM, CIBADAK – Masalah Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di wilayah Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mulai terurai. Melalui gerakan kolaborasi bertajuk KOPI MASAL (Kolaborasi Peduli Masalah Sosial), pembangunan rumah ke-20 kini resmi dimulai di Kampung Situ Saeur RT 01/11, Kelurahan Cibadak, Jumat (01/05/2026).

​Camat Cibadak, Mulyadi, mengungkapkan bahwa langkah masif ini diambil menyusul tingginya angka Rutilahu di wilayahnya. Berdasarkan data sementara yang dihimpun dari desa-desa, terdapat sekitar 1.000 unit rumah yang kondisinya memprihatinkan.

​”Karena jumlahnya banyak, kami berupaya melakukan respons cepat. Begitu ada laporan masuk dari desa atau kelurahan, langsung kami tindak lanjuti dengan asesmen di lapangan,” ujar Mulyadi kepada awak media.

​Pola ‘Lelang Kebaikan’ dan Tanpa Uang Tunai

​Uniknya, program yang digelorakan sejak 2025 ini tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai, melainkan material bangunan. Skemanya dilakukan melalui pola “Lelang Kebaikan” yang dilempar ke grup komunikasi KOPI MASAL.

​”Setelah tim melakukan asesmen bersama RT/RW dan desa, kami hitung kebutuhan materialnya. Lalu kami ajukan ke donatur. Jadi, bantuannya langsung berupa semen, bata, atau kayu sesuai kebutuhan,” jelasnya.

​Sumber pendanaan program ini bersifat inklusif, mulai dari:

  • ​Infak mingguan ASN Kecamatan Cibadak.
  • ​Jamaah pengajian dan Forkopimcam.
  • ​Pemerintah Desa/Kelurahan.
  • ​Dukungan perusahaan swasta dan BAZNAS.
  • ​Swadaya masyarakat setempat.
Camat Cibadak saat menyerahkan bantuan Program Kopi Masal kepada salah satu warga.

​Target Kelayakan dan Tantangan di Lapangan

​Hingga awal Mei 2026, tercatat sudah ada 21 rumah yang masuk dalam daftar program. Sebanyak 16 unit telah rampung seratus persen, sementara 5 unit lainnya—termasuk di Situ Saeur—masih dalam proses pengerjaan.

​Mulyadi menekankan bahwa standar perbaikan difokuskan pada aspek kelayakan dan kenyamanan bagi penerima manfaat, terutama lansia.

​”Yang penting layak dan nyaman dulu. Untuk lansia misalnya, cukup satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi yang bersih,” tambahnya.

​Meski demikian, Mulyadi tidak menampik adanya kendala dalam perjalanan program ini. Tantangan utama biasanya muncul terkait keterlambatan logistik dari donatur serta fluktuasi semangat gotong royong warga di tengah proses pembangunan.

​”Kadang di tengah jalan ada komitmen yang melemah soal upah tukang, padahal sejak awal konsepnya adalah swadaya. Tapi sejauh ini, kendala-kendala itu masih bisa diredam berkat koordinasi yang baik dengan para Kades dan Lurah,” paparnya.

​Optimisme Menggerakkan Elemen Lokal

​Melihat besarnya potensi dunia usaha dan tingginya rasa kepedulian masyarakat di Cibadak, Mulyadi optimistis program ini akan terus berlanjut hingga angka Rutilahu berkurang signifikan.

​”Tinggal bagaimana kita konsisten menggerakkan semua elemen yang ada. Saya yakin, dengan semangat kolaborasi, masalah sosial di Cibadak bisa kita selesaikan bersama,” pungkasnya.

​Reporter: Mawaldi

Editor: Demi Pratama Adiputra

Exit mobile version