SUKABUMISATU.com – Sorotan tajam kembali mengarah pada tata kelola pelayanan kesehatan di wilayah Sukabumi Selatan. Kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Sukabumi Raya membeberkan rapor merah terkait kondisi pelayanan dan pengelolaan anggaran di RSUD Palabuhanratu yang dinilai kontradiktif dengan besarnya dana yang digelontorkan setiap tahun.
Sebagai rumah sakit rujukan utama bagi masyarakat di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi, RSUD Palabuhanratu hingga kini masih tertahan di status Rumah Sakit Tipe C. Padahal, beban kerja dan ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit ini tergolong sangat tinggi.
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Sukabumi Tahun 2024, tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di RSUD Palabuhanratu bahkan menembus angka 84,4 persen. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang RSUD Sekarwangi Cibadak yang berada di angka 73,7 persen. Namun anehnya, dengan BOR yang super padat, kapasitas RSUD Palabuhanratu hanya mentok di 244 tempat tidur, berbanding terbalik dengan RSUD Sekarwangi yang memiliki 365 tempat tidur.
Kondisi ketimpangan ini memicu pertanyaan besar: Ke mana arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam memeratakan kualitas pelayanan kesehatan?
Anggaran Kebersihan Fantastis, Fisik Bangunan Malah Miris
Berdasarkan penelusuran BEM Nusantara Sukabumi Raya pada data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) Tahun Anggaran 2026, dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mengalir ke RSUD Palabuhanratu sejatinya bernilai fantastis.
Beberapa pos anggaran mentereng di antaranya:
- Belanja obat-obatan & pembayaran utang: Rp9,6 Miliar
- Pengadaan alat kedokteran umum: Rp6,3 Miliar
- Bahan habis pakai farmasi: Rp3 Miliar
- Jasa tenaga kebersihan: Rp2,277 Miliar
Namun, besarnya angka-angka di atas kertas tersebut dinilai belum menyentuh realitas di lapangan.
Fakta mencengangkan ditemukan saat BEM Nusantara melakukan observasi langsung. Fasilitas fisik rumah sakit plat merah ini justru tampak kumuh. Beberapa bagian dinding bangunan terlihat lembap, mengelupas, diduga berjamur, dengan tata kelola kebersihan yang dinilai buruk.
Ironisnya, anggaran kebersihan RSUD Palabuhanratu yang mencapai Rp2,277 miliar itu justru lebih bengkak ketimbang RSUD Sekarwangi (Tipe B) yang hanya menganggarkan Rp1,804 miliar.
”Publik tentu berhak bertanya. Rumah sakit yang lebih besar dan sudah berstatus Tipe B memiliki anggaran kebersihan lebih kecil, sementara di RSUD Palabuhanratu kami masih menemukan dinding lembap, cat mengelupas, dan kondisi lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius,” cetus perwakilan BEM Nusantara Sukabumi Raya.
Ironi Sektor Farmasi: Anggaran Miliaran, Pasien Tetap Beli Obat di Luar
Kritik tidak berhenti pada dinding yang berjamur. Sektor farmasi yang menelan anggaran Rp9,6 miliar juga tak luput dari sorotan tajam mahasiswa. Dokumen pengadaan menunjukkan bahwa anggaran tersebut sebagiannya juga tersedot untuk membayar utang farmasi.
Dampaknya langsung dirasakan masyarakat kecil. Di lapangan, ditemukan fakta bahwa masih banyak pasien yang terpaksa gigit jari dan harus membeli sebagian obat di luar rumah sakit dengan kocek pribadi, lantaran stok obat di instalasi farmasi rumah sakit kerap kosong.
BEM Nusantara mendesak manajemen RSUD Palabuhanratu untuk transparan dan membuka dalang di balik carut-marutnya manajemen stok obat ini.
Sayur Sup Berulat Jadi Puncak Kekecewaan
Menambah daftar panjang raport merah tersebut, kualitas pelayanan penunjang bagi pasien juga dilaporkan bermasalah. Dalam temuan sebelumnya, layanan konsumsi (makanan pasien) diduga jauh dari standar kelayakan kesehatan. Mahasiswa membeberkan adanya laporan temuan ulat di dalam hidangan sayur sop yang disajikan untuk pasien.
Rangkaian persoalan dari hulu ke hilir ini mempertegas dugaan adanya salah urus (mismanagement) di tubuh RSUD Palabuhanratu. Menurut mahasiswa, akar masalahnya bukan lagi soal ada atau tidaknya anggaran, melainkan komitmen moral dan efektivitas tata kelola dari pihak manajemen dalam memberikan hak pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat Sukabumi Selatan.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya mendapatkan klarifikasi resmi dari pihak manajemen RSUD Palabuhanratu terkait rentetan temuan dan kritik pedas yang dilayangkan oleh BEM Nusantara Sukabumi Raya tersebut. (Red)
