SUKABUMISATU.com — Suhu udara di Mapolres Sukabumi pagi itu terasa sejuk, namun atmosfer di lapangan justru dipenuhi ketegasan dan kesiagaan yang membara, Kamis (5/11/2026). Ratusan pasang mata dari berbagai unsur—TNI, Polri, pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hingga relawan organisasi masyarakat—berdiri tegak dalam satu komando.
Mereka tengah menyatukan langkah demi satu misi besar: melindungi warga Sukabumi dari ancaman amukan alam seiring datangnya musim penghujan.
Dipimpin langsung oleh Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, Apel Siaga Bencana ini bukan sekadar seremoni rutin. Di balik seragam dan atribut yang berbaris rapi, terselip sebuah panggilan nurani yang mendalam untuk mengawal keselamatan sesama.
Geografi Indah yang Menyimpan Tantangan
Bukan rahasia lagi, Kabupaten Sukabumi dianugerahi keindahan alam yang luar biasa. Dari gugusan pegunungan yang hijau hingga bentangan garis pantai sepanjang 117 kilometer yang mempesona. Namun, di balik pesona itu, letak geografis ini juga menempatkan Sukabumi dalam daftar daerah rawan bencana tertinggi di Jawa Barat.
Mulai dari bayangan longsor di lereng-lereng curam, banjir bandang yang datang tiba-tiba, amukan angin puting beliung, hingga potensi gempa bumi selalu mengintai. Realitas inilah yang membuat Bupati Asep Japar tak henti-hentinya mengingatkan pentingnya kesiapan kolektif.
Bagi Bupati, penanggulangan bencana tidak boleh dikerjakan setengah-setengah atau hanya sebatas reaksi setelah musibah terjadi.
“Penanganan bencana tidak hanya sebatas evakuasi. Ketersediaan tempat pengungsian, dapur umum, tim SAR, hingga keamanan lingkungan juga harus dipastikan siap,” tegas Bupati Asep Japar di hadapan para peserta apel.
Tiga Pilar Utama: Koordinasi, Kecepatan, dan Keikhlasan
Dalam arahannya, orang nomor satu di Sukabumi itu menitipkan pesan yang menyentuh hati para personel gabungan. Ia meminta agar penanganan di lapangan tidak hanya mengandalkan otot dan peralatan canggih, melainkan juga digerakkan dengan ketulusan hati.
Ada tiga poin utama yang ditekankan Bupati untuk dipegang teguh oleh seluruh petugas:
* Koordinasi Antar-Unsur: Menyatukan ego sektoral dan bergerak seirama demi efektivitas di lapangan.
* Kecepatan Bertindak: Sigap merespons laporan warga tanpa menunggu waktu lama.
* Kepedulian Tulus: Menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
“Jalankan tugas dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan. Pastikan masyarakat mendapatkan pertolongan, merasa terlindungi, dan terayomi,” pesan Bupati dengan nada penuh penekanan, menyentuh nurani setiap insan yang mendengarkan.
Jaga Harta Benda Warga, Tindak Tegas Penyusup
Tak hanya fokus pada penyelamatan jiwa, Bupati juga mengingatkan sisi lain yang sering luput di tengah kekacauan pasca-bencana: keamanan harta benda warga dan lokasi pengungsian.
Ia menginstruksikan agar seluruh sarana dan prasarana dimanfaatkan secara optimal. Lebih dari itu, aparat keamanan diminta untuk memperketat penjagaan di lokasi evakuasi guna menutup celah bagi pihak-pihak tak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan kesusahan orang lain demi keuntungan pribadi.
Melalui apel siaga ini, secercah harapan kembali ditegakkan. Sinergi yang kokoh antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan mampu membentuk benteng pertahanan yang tangguh. Sebab, di tengah amukan alam, kepedulian antarsesama adalah pelindung terbaik yang dimiliki oleh warga Sukabumi.












