SUKABUMISATU.com, BOGOR — Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Bandung bersama Balai Pengujian, Balai Perawatan, dan PT KAI Daop 1 Jakarta merampungkan uji fungsi jalur ganda (double track) kereta api lintas Bogor–Sukabumi pada Senin (31/8). Pengujian menyasar jalur hulu di Km 02+6/7 antara Stasiun Bogor Paledang dan Stasiun Batutulis.
Langkah ini dilakukan guna memastikan keandalan prasarana rel sebelum resmi dioperasikan untuk melayani perjalanan kereta penumpang maupun angkutan logistik.
Kepala BTP Kelas I Bandung, Endang, menyatakan hasil uji fungsi menunjukkan prasarana siap dilintasi rangkaian kereta api sesuai dengan target kecepatan operasional yang ditetapkan dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka).
“Setelah uji fungsi hari ini, kami masih menunggu hasil dari Balai Pengujian sebagai unit yang memiliki wewenang dalam mengeluarkan data. Jika sesuai dengan SOP, maka pengoperasian jalur ganda ini direncanakan akan diakomodir pada Gapeka 2026,” ujar Endang.
Mendorong Kapasitas Penumpang dan Efisiensi Logistik
Pembangunan double track lintas Bogor–Sukabumi merupakan bentuk komitmen Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dalam meningkatkan keselamatan perjalanan sekaligus menambah kapasitas lintas. Dengan bertambahnya kapasitas, frekuensi perjalanan kereta per hari dapat ditingkatkan guna merespons tingginya permintaan masyarakat.
Di sisi lain, pengoperasian jalur ganda ini juga berpotensi mengoptimalkan layanan kereta logistik. Dua komoditas lokal utama yang menjadi sasaran pengangkutan rel adalah Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) dari Cicurug dan semen dari Cisaat.
Pengalihan sebagian beban logistik dari jalan raya ke jalur rel diharapkan dapat mengurai problem krusial di jalur darat Bogor–Sukabumi — mulai dari kemacetan kronis hingga ancaman kerusakan jalan akibat truk berdimensi dan bermuatan lebih (over dimension over load/ODOL).
DJKA memastikan seluruh tahapan pengembangan sarana dan prasarana rel tetap mengacu pada Standar Pelayanan Minimum (SPM) serta regulasi keselamatan perkeretaapian yang berlaku.
Reporter: Suhendi Soex
