SUKABUMISATU.com – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Cikaso, Kabupaten Sukabumi, kembali menyedot perhatian publik setelah unggahan video kondisi sungai tersebut viral di media sosial. Para penambang tradisional bergeming dengan alasan klasik: aktivitas penambangan tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga di tengah sempitnya lapangan pekerjaan.
Namun, di balik narasi bertahan hidup tersebut, terdapat ancaman ekologis dan kesehatan masyarakat yang kian memprihatinkan. Penggunaan merkuri (raksa) secara bebas dalam proses pengolahan emas mengancam ekosistem Sungai Cikaso dari hulu hingga hilir.
Warisan Ekonomi vs Ancaman Ekologi
Masyarakat sekitar Sungai Cikaso menggantungkan piring nasi mereka pada bulir-bulir emas di dasar sungai. Namun, metode ekstraksi yang diandalkan masih sangat bergantung pada bahan kimia berbahaya.
Pemerhati Lingkungan dan Teknologi Informasi, Ir. Hendra Dirdja Triana, M.M., Ph.D., menegaskan bahwa persoalan tambang liar tidak bisa hanya dipandang sebagai dinamika sosial-ekonomi lokal, melainkan sebuah krisis ekosistem yang berdampak jangka panjang.
”Para penambang umumnya menggunakan merkuri elemental untuk mengikat emas melalui proses amalgamasi. Amalgam tersebut kemudian dipanaskan agar emas terpisah dari merkurinya. Di sinilah bahaya utama bermula, yaitu pelepasan uap merkuri yang tidak terlihat dan tidak berbau ke udara, yang langsung dihirup oleh penambang maupun warga permukiman di sekitarnya,” ujar Hendra saat diwawancara sukabumisatu.com, Jumat (25/09/2026).
Dari Amalgamasi ke Rantai Makanan
Dampak merkuri tidak berhenti di lokasi pemandian atau lubang tambang. Limbah pengolahan yang dibuang langsung ke aliran Sungai Cikaso membawa kontaminan ini meluas ke berbagai wilayah perkampungan di Sukabumi selatan.
Di lingkungan perairan, merkuri anorganik mengalami transformasi biologis menjadi metil merkuri bentuk merkuri organik yang sangat beracun dan mudah terakumulasi dalam jaringan tubuh organisme air.
”Sifat metil merkuri ini mengalami biomagnifikasi dalam rantai makanan. Ikan-ikan di Sungai Cikaso yang tercemar akan mengonsumsi zat beracun tersebut. Ketika ikan tersebut ditangkap dan dikonsumsi oleh masyarakat, racun itu berpindah ke tubuh manusia,” terang Hendra.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa paparan merkuri berulang dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, saluran pencernaan, paru-paru, hingga sistem kekebalan tubuh. Risiko terbesar mengintai wanita hamil dan anak-anak, di mana merkuri dapat memicu gangguan perkembangan otak pada janin.
Jangan Hanya Melarang, Berikan Solusi Nyata
Menindak atau menutup aktivitas tambang liar dengan pendekatan represif semata dinilai belum menyelesaikan akar masalah selama masyarakat tidak memiliki alternatif mata pencaharian.
Mengutip panduan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Hendra menekankan pentingnya transisi bertahap menuju Responsible Artisanal and Small-scale Gold Mining (Pertambangan Emas Skala Kecil yang Bertanggung Jawab).
”Pemerintah perlu menghadirkan solusi konkret: fasilitasi teknologi pengolahan emas bebas merkuri yang lebih efisien, edukasi bahaya bahan kimia, kepastian regulasi, hingga pelatihan diversifikasi ekonomi berbasis potensi lokal Cikaso,” tegasnya.
Pengawasan Berbasis Teknologi GIS dan AI
Di era digital, pengawasan pencemaran lingkungan menurut Hendra dapat dioptimalkan dengan mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (GIS), penginderaan jauh (remote sensing), dan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi GIS dapat memetakan titik-titik pengolahan emas, pola aliran Sungai Cikaso, serta sebaran permukiman warga yang paling rentan terdampak. AI dapat dimanfaatkan untuk menganalisis pola penyebaran kontaminan berdasarkan data sampel lapangan dan laboratorium.
”Sistem monitoring digital ini membantu pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menentukan wilayah prioritas penanganan dan pemulihan (remediation). Namun, analisis digital tetap harus berdiri sejajar dengan pengujian sampel air, tanah, dan bio monitoring kesehatan warga secara berkala,” tambah Hendra.
Aktivitas ekonomi yang merusak lingkungan pada dasarnya sedang menggadaikan masa depan generasi mendatang. Nilai gramasi emas yang didapat hari ini tidak akan pernah sebanding dengan biaya pemulihan ekosistem dan pengobatan penyakit akibat racun merkuri di kemudian hari. Keseimbangan antara perut masyarakat, hukum, dan kelestarian Sungai Cikaso harus segera ditemukan sebelum dampak ekologisnya menjadi permanen.
