SUKABUMISATU.com, Cidahu – Udara sejuk khas kaki Gunung Salak menyambut pagi di Kecamatan Cidahu, Jumat (14/8/2026). Namun, ada yang berbeda dalam dinamika pemerintahan wilayah ini. Di antara riuh aktivitas warga, sebuah lembaran sejarah baru tengah ditulis oleh seorang perempuan.
Namanya Leni Nurliah, S.IP.. Ia bukan sekadar pejabat baru yang datang membawa tumpukan berkas dinas. Leni adalah pemimpin perempuan pertama yang memegang tongkat komando di Kecamatan Cidahu.
Menembus ruang yang kerap didominasi kaum adam tentu bukan perkara mudah. Namun, di balik kelembutan parasnya, tersimpan tekad yang membaja.
”Saya perempuan, tetapi saya tidak akan mundur untuk memimpin Kecamatan Cidahu,” ucap Leni mantap, menyiratkan keberanian seorang srikandi yang siap mengabdi.
Merangkul, Bukan Sekadar Memerintah
Bagi Leni, memimpin Cidahu yang kaya akan latar belakang masyarakat bukanlah soal menunjukkan kekuasaan. Ini adalah soal mengetuk pintu hati warga agar mau berjalan berdampingan.
Ia menyadari, mimpi besar untuk menjadikan Cidahu wilayah yang maju, bermartabat, dan sejahtera tidak bisa dipikul oleh satu pundak saja.
”Apa yang kita harapkan tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi harus bersama-sama,” ujarnya lembut namun penuh penekanan.
Misi Kemanusiaan: Melawan Stunting di Kaki Gunung
Di balik pemandangan alam Cidahu yang asri, ada pekerjaan rumah besar yang mengusik nurani Leni: persoalan stunting. Angka yang masih berada di urutan ke 6 menjadi cambuk baginya untuk segera bergerak.
Leni tak ingin anak-anak di Cidahu kehilangan masa depan hanya karena tumbuh kembang yang terhambat. Ia bertekad menggerakkan seluruh potensi—mulai dari bidan desa, kader Posyandu, hingga tokoh masyarakat—untuk berada dalam satu barisan.
”Jangan sampai posisi kita tetap berada di posisi ke 6. Walaupun sulit, kita akan berusaha menekan angka tersebut, bahkan kalau bisa masuk 3 besar terbaik dalam penanganan stunting,” ungkapnya dengan mata berbinar penuh harap.
Menatap Masa Depan dengan Kerendahan Hati
Selain kesehatan anak, pembenahan akses jalan dan fasilitas publik juga menjadi perhatian utamanya. Leni ingin memastikan bahwa visi Kabupaten Sukabumi yang Barokah, Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkeadilan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok kampung di Cidahu.
Di akhir perbincangan, Leni menyadari bahwa seorang pemimpin hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari keterbatasan. Dengan kerendahan hati, ia menyatukan tangannya, memohon doa dan restu dari seluruh warga.
”Kepada seluruh masyarakat Cidahu di manapun berada, saya mohon dukungannya, mohon doanya… Mari kita bangun rumah kita ini bersama-sama,” tutup Leni.
Langkah Leni Nurliah baru saja dimulai. Di bawah kepemimpinannya, Cidahu kini menaruh harapan baru—harapan yang dirawat dengan sentuhan kasih sayang seorang ibu dan keberanian seorang pemimpin.
Reporter: Chuba Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra
