SUKABUMISATU.com — Gelaran Kejurda Grasstrack IMI Jabar 2026 yang berlangsung di Sirkuit Tegallaja, Surade, Kabupaten Sukabumi, 19 – 20 September 2026 kemarin menyisakan persoalan di balik panggung hiburan. Grup musik lokal, Skasta Band, menyuarakan kekecewaannya terkait kejelasan honorarium serta beban sewa alat musik yang melimpah kepada pihak pengisi acara.
Vokalis Skasta Band, Gumilar (Gumey), mengungkapkan bahwa kerja sama awal disepakati melalui pertemuan langsung di sirkuit bersama panitia guna mencari skema pembiayaan yang efisien.
“Kesepakatan awal, pembayaran untuk Skasta diambil dari hasil pengelolaan parkir acara. Saat itu panggung dan sound system sudah ada, namun kami tegaskan bahwa alat seperti drum tetap memerlukan biaya sewa. Sebelum tampil pun kami sudah sepakat dan bersalaman dengan Pak Haji Yadi,” kata Gumey saat memberikan keterangan pada sukabumisatu.com. Senin, (21/09/26).
Namun, usai memberikan penampilan di hadapan ratusan penonton, Gumey mengaku tidak menerima hasil pembagian parkir tersebut dan justru diminta menanggung biaya sewa peralatan band. “Hasil parkir kami tidak pegang sama sekali, katanya hanya dapat Rp200.000 hingga Rp25.000. Malah kami sebagai talent yang diminta ikut membayar sewa alat drum dan perlengkapannya,” tuturnya.
Tanggapan Panitia dan Penghubung Acara
Menanggapi keluhan tersebut, perwakilan panitia penyelenggara, Yadi Kembar Wijaya yang akrab disapa Haji Yadi ini menampik tuduhan itu. Ia mengaku tak merekomendasikan kegiatan band setelah event grasstrack. “Acara musik itu bukan agenda kami, dan kami sebenarnya tidak ada tanggung jawab untuk acara musik itu,” tegas Yadi.
Namun ia membenarkan adanya skema pembiayaan berbasis retribusi parkir yang di inisiasi oleh pemuda setempat. Dan ternyata menurut Yadi bahwa realisasi skema hasil parkir di lapangan jauh dari target yang diharapkan.
“Dari awal kami menyambut baik kehadiran pengisi acara. Namun fakta di lapangan, pendapatan parkir sangat minim dan tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional vendor penyedia alat musik. Miskomunikasi ini terjadi karena kondisi penerimaan di lokasi yang tidak sesuai perkiraan awal, bukan sengaja memberatkan talent. Kami terbuka untuk menyelesaikan hal ini secara kekeluargaan,” jelas Haji Yadi.l saat dikonfirmasi.
Sementara itu, Fatir selaku pihak penghubung antara panitia dan musisi, menyampaikan bahwa perannya murni untuk menjembatani komunikasi demi meramaikan ajang otomotif daerah tersebut.
“Posisi saya di sini menengahi. Kesepakatan jalan tengah dari hasil parkir memang dibahas bersama di sirkuit. Sangat disayangkan jika terjadi dinamika seperti ini akibat pemasukan yang kurang sesuai ekspektasi. Saya siap memfasilitasi kembali dialog antara pihak Skasta dan Haji Yadi agar mendapat solusi terbaik bagi semua,” ujar Fatir.
Kedua belah pihak berharap ruang dialog terbuka dapat segera direalisasikan guna menyelesaikan persoalan kompensasi dan operasional penampilan panggung secara adil dan transparan.
Reporter: Maulana Yusuf
