SUKABUMISATU.com – Kalau ada tempat di Kabupaten Sukabumi yang paling berhasil mempraktikkan filosofi “desak-desakan membawa berkah”, jawabannya jelas bukan angkot trayek Cibadak, melainkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara.
Bagaimana tidak? Kapasitas normal yang sejatinya cuma muat untuk 618 orang, kini nekat dihuni oleh 1.359 warga binaan. Kepadatan hingga 200 persen lebih ini tampaknya tak bikin pusing, malah dapat apresiasi setinggi langit dari Pengurus Cabang (PC) Garuda KPP RI Sukabumi Raya, Selasa (13/10/2026).
Ketua PC Garuda KPP RI Sukabumi Raya, Isanudin, memuji habis-habisan ketahanan fisik dan mental para petugas serta warga binaan di sana. Di saat masyarakat luar kerap mengeluh stres karena macetnya jalur Jalur Utara Sukabumi, warga binaan Warungkiara justru terbukti sangat adaptif saat tidur bersenggolan siku dan lutut tiap malam.
”Di tengah kondisi overcrowding, Lapas Warungkiara tetap mampu menjaga stabilitas keamanan dan produktivitas,” puji Isanudin, yang tampaknya heran kenapa tempat sesak itu justru menghasilkan hafiz Qur’an, pembuat keset, hingga peternak sukses—sesuatu yang bahkan sulit dicapai oleh sebagian alumni kampus ternama.
Pindah ke Lapas demi Cari Sinyal Kedamaian?
Tak sekadar bertahan hidup, Lapas Warungkiara di bawah pengawasan pengamanan Ka KPLP Ibnu Wibowo disebut-sebut berhasil mengalahkan efektivitas program pemberdayaan Pemkab Sukabumi.
Di dalam sel yang serba terbatas, warga binaan malah rajin menghafal Al-Qur’an hingga berhasil menyabet juara MTQ Nasional antar-lapas. Bahkan, beberapa alumni lapas dilaporkan langsung dapat pekerjaan keren menjadi pengajar pesantren begitu bebas, sebuah prestasi yang sukses bikin para pencari kerja fresh graduate gigit jari.
Sinergi di dalam penjara pun dinilai jauh lebih harmonis daripada konstelasi politik lokal. MUI Kabupaten Sukabumi, 7 gereja lokal, hingga LBH Cibadak rutin ‘sowan’ dan ngopi bareng di sana. Pengamat dadakan pun berspekulasi, jangan-jangan cara paling cepat menyatukan elemen masyarakat Sukabumi yang heterogen adalah dengan mengumpulkan mereka di dalam satu blok hunian yang sama.
Rekomendasi: Jangan Lupa Beli Keset Buatan Napi
Meski melontarkan pujian setinggi langit, Isanudin tetap menyisipkan tiga pesan bersponsor agar kondisi “ajaib” ini tidak berubah jadi bencana:
Tetap Humanis: Jangan sampai karena kamar terlalu penuh, hak kesehatan warga binaan disamakan dengan standar antrean BPJS di rumah sakit daerah.
Jaga Integritas: Petugas diminta tetap lurus dan tidak tergoda memungut “biaya sewa angin segar” di dalam sel.
Bantu Jualan: Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi disindir halus agar jangan cuma pandai berwacana, tapi belilah produk hasil karya warga binaan—mulai dari besek, keset, sampai sayur-sayuran—daripada sibuk mengimpor barang dari luar daerah.
”Kami siap mengawal agar pelayanan tetap humanis dan akuntabel,” tutup Isanudin.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda kapasitas Lapas Warungkiara akan melonggar. Namun, melihat pencapaiannya, bukan tidak mungkin tempat ini kelak diusulkan menjadi cagar budaya tempat pelatihan multitasking dan kesabaran tingkat tinggi di Sukabumi Raya.
Editor: Demi Pratama Adiputra
