Indeks

Dari Kilang Minyak, Tebuireng, hingga Kramat Raya: Langkah Tenang Gus Kikin Menahkodai Kapal Besar NU

Gus Kikin saat mengisi kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida). Foto: Unusida

SUKABUMISATU.COM — Ada gestur yang khas setiap kali KH. Abdul Hakim Mahfudz berbicara di hadapan publik: tenang, terukur, dan hampir tanpa letupan retorika yang berlebihan. Pria yang akrab disapa Gus Kikin itu bukan tipe pemimpin yang gemar melempar jargon muluk. Namun di balik pembawaannya yang dingin, ada kombinasi langka yang jarang dimiliki tokoh publik hari ini: darah murni sang pendiri NU dan disiplin ketat seorang profesional industri migas.

​Rabu malam (30/9/2026), di bawah sorot lampu Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta, nama Gus Kikin resmi dipatok sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2026–2031. Ia mendampingi KH. Miftachul Akhyar yang kembali dipercaya menempati posisi puncak Syuriyah sebagai Rais Aam.

​Bagi warga nahdliyin, naiknya Gus Kikin ke pucuk kepemimpinan tertinggi Tanfidziyah bukan sekadar pergantian giliran. Ini adalah babak baru penyatuan antara keteguhan tradisi Tebuireng dan rasionalitas manajemen modern.

Darah Hasyim Asy’ari dan Disiplin Industri Migas

​Lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958—tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia—Gus Kikin tumbuh dalam kepungan tradisi keilmuan Islam yang kental. Ibunya, Nyai Hj. Abidah Hasyim, adalah putri langsung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ayahnya, KH. Mahfudz Anwar, dikenal sebagai kiai kharismatik ahli ilmu falak dari Pesantren Seblak.

​Namun, alih-alih langsung meniti karir panggung keagamaan sejak muda, Gus Kikin memilih jalur melingkar. Ia masuk ke dunia profesional, bergelut dengan rumitnya kalkulasi teknis dan manajemen risiko di industri minyak dan gas bumi. Tahun-tahun panjangnya sebagai petinggi di PT Energi Nusantara membentuk cara pandangnya terhadap tata kelola: semua harus transparan, terukur, dan berbasis data.

​Ketika KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) wafat pada awal 2020, amanah berat jatuh ke pundaknya. Ia dipanggil pulang ke Jombang untuk memimpin Pondok Pesantren Tebuireng. Di sana, Gus Kikin membuktikan bahwa disiplin korporasi dan nilai-nilai keislaman tidak saling bertabrakan, melainkan bisa saling menguatkan.

​Tangan Dingin Penyeimbang Jam’iyah

​Di lingkungan NU, Gus Kikin dikenal sebagai figur penyeimbang. Saat dinamika internal organisasi bergolak, sosoknya kerap hadir sebagai jalan tengah. Pengalamannya memimpin PWNU Jawa Timur sebagai Penjabat (Pj) Ketua pada 2024 menjadi bukti kepiawaiannya menavigasi turbulensi politik internal dengan soft diplomacy yang dingin namun tuntas.

​Kini, menahkodai PBNU periode 2026–2031 bersama jajaran pengurus yang diisi kombinasi politisi, birokrat, hingga akademisi, tantangan Gus Kikin tidaklah ringan. Di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan pergeseran geopolitik global, Nahdlatul Ulama dituntut tidak hanya besar secara kuantitas massa, tetapi juga solid secara tata kelola kemandirian ekonomi dan keumatan.

​Di tangan cucu Mbah Hasyim yang pernah bergelut dengan kilang minyak ini, publik dan jamaah NU menanti satu hal: bagaimana kapal besar bernama PBNU ini berlayar—tetap berjangkar kuat pada tradisi pesantren, namun melaju presisi dengan kompas manajemen modern.

Exit mobile version