SUKABUMISATU.com, Cidahu — Haul keempat Raden Sumpena Jayawiguna atau yang dikenal dengan sebutan Eyang Jangkrik berlangsung meriah di Kampung Bondol RT 01/RW 05, Desa Pondokkaso Tengah, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri masyarakat dan sejumlah unsur pemerintahan di wilayah Kecamatan Cidahu dan sekitarnya. Hadir di antaranya Camat Cidahu, para tokoh masyarakat, para ulama, Kepala Desa Jayabakti, ketua organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, NU Kecamatan Cidahu, serta para santri.
Selain menjadi momentum mengenang tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut, kegiatan haul juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan makam bersejarah itu sebagai destinasi wisata religi.
Makam Raden Sumpena Jayawiguna disebut telah berusia ratusan tahun. Keberadaan makam tersebut hingga kini masih dirawat oleh masyarakat dan para pengurus makam.
Ketua panitia haul, Rudi Malik, menjelaskan bahwa pelaksanaan haul baru memasuki tahun keempat. Hal itu bukan berarti makam tersebut baru berusia empat tahun, melainkan kegiatan haul secara rutin baru diselenggarakan selama empat tahun terakhir.
“Ini haul yang keempat. Bukan makamnya baru empat tahun, tetapi kami dan para pengurus makam baru membuat acara haul ini selama empat tahun,” ujar Rudi.
Menurutnya, pelaksanaan haul dari tahun ke tahun mendapat respons positif dari masyarakat. Antusiasme warga terhadap kegiatan tersebut juga semakin meningkat.
“Alhamdulillah, yang tadinya tidak ada acara ramai seperti ini, sekarang setiap tahun kami adakan. Warga masyarakat pun sangat antusias, termasuk para pemerintah yang ada di wilayah Kecamatan Cidahu dan sekitarnya,” katanya.
Rudi mengatakan, makam tersebut memiliki nilai sejarah yang penting sehingga perlu dijaga dan dirawat secara bersama-sama.
“Ini adalah makam sejarah yang tentunya harus kami jaga sehingga bisa diurus bersama-sama,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan haul tahun ini, panitia juga mengundang berbagai pihak, termasuk unsur pemerintahan. Langkah tersebut dilakukan agar keberadaan makam bersejarah itu semakin dikenal sekaligus mendapat perhatian dalam upaya pelestariannya.
“Kami mengundang semua pihak, tidak hanya masyarakat. Semua instansi pemerintahan juga kami undang agar mereka tahu bahwa makam ini adalah makam yang harus dijaga dan dilindungi negara,” kata Rudi.
Ia berharap ke depan keberadaan makam Raden Sumpena Jayawiguna atau Eyang Jangkrik dapat semakin dikenal masyarakat luas. Selain menjadi tempat ziarah, kawasan tersebut diharapkan dapat dikembangkan sebagai wisata religi dan memperoleh perhatian sebagai bagian dari cagar budaya di Kecamatan Cidahu,” pungkasnya.
Reporter: Chuba












