SUKABUMISATU.com, Jakarta – Ruang lab Komputer SMP Mardi Yuana (MY) Cicurug, Kabupaten Sukabumi, beberapa bulan terakhir tak pernah benar-benar sepi. Di antara deretan kabel, rakitan komponen mikrokomputer, dan baris-baris kode programming, sekelompok remaja bergelut dengan mimpi besar.
Kerja keras dan ketekunan itu akhirnya membuah hasil manis di ajang bergengsi Olimpiade TIK Informatika Nasional (OTN) ke-8 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Berhadapan dengan ratusan peserta terbaik dari berbagai penjuru tanah air, anak-anak muda dari Sukabumi ini memborong dua gelar Juara I pada cabang Robotik serta menembus peringkat 9 Nasional untuk cabang Pemrograman Game (Coding).
Sentuhan Inovasi di Cabang Robotik
Kegigihan terpancar jelas saat tim pertama yang diperkuat oleh Rafka Basthatan Ilman dan Muhamad Azea Kenzi mempresentasikan karya mereka di hadapan dewan juri. Ketepatan rancangan dan kecanggihan konsep menghantarkan Rafka dan Azea menyabet predikat Juara I Kategori Teknologi Terbaik.
Senyum lega juga terpancar dari raut wajah Arsyl Gozali dan Geraldo Maximus Simalang. Lewat kreasi robotik yang sarat nilai guna dan menggugah empati, tim robotik kedua ini sukses membawa pulang piala Juara I Kategori Karya Inspiratif.
Dua piala utama cabang robotik itu seolah menegaskan bahwa karya anak daerah tidak bisa dipandang sebelah mata.
Perjuangan Jericho di Balik Layar Komputer
Di sudut panggung yang berbeda, suasana tak kalah menegangkan dirasakan oleh Jericho Lionell Pangestu. Bertarung di cabang Pemrograman Game (Coding), Jericho harus mengadu kemampuan logika dan kreativitasnya di antara 75 finalis terbaik se-Indonesia.
Dengan jemari yang menari lincah di atas papan ketik dan fokus yang terjaga, Jericho berhasil menembus papan atas nasional. Ia resmi mengamankan posisi peringkat ke-9 Nasional, sebuah pencapaian yang membuktikan ketangguhan mental dan kualitas logikanya di tingkat tertinggi.
Peran Tangan Dingin Seorang Guru
Di balik sorot lampu panggung kemenangan para siswa, ada sosok pelatih sekaligus pendamping yang tak kenal lelah: Priska Diasella Lewuras. Sebagai guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP Mardi Yuana Cicurug, Priska tidak hanya mengajarkan rumus dan teori, tetapi juga menjadi tempat bersandar serta pembakar semangat anak-anak didiknya saat menghadapi rasa lelah dan kebuntuan.
“Melihat mereka berani melangkah dan menampilkan yang terbaik di ajang sebesar ini sudah menjadi kebanggaan luar biasa,” ungkap Priska dengan mata berbinar di sela penutupan acara.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan jarak dari pusat ibu kota bukanlah penghalang untuk mengukir sejarah. Dari bilik kelas sederhana di Cicurug, para siswa SMP Mardi Yuana telah membuktikan bahwa mimpi yang dirawat dengan ketekunan, bimbingan yang tulus, dan kerja keras akan selalu menemukan jalannya menuju puncak prestasi.
Reporter: Mawaldi
